Sabtu, 16 September 2017

KONSEP TUMBUH KEMBANG ANAK

BAB II
PEMBAHASAN
A.     ANAK
1.      Definisi Anak
Anak merupakan individu yang unik, dimana mereka mempunyai kebutuhan yang berbeda – beda sesuai dengan tahapan usianya. Anak bukan miniatur dari orang dewasa atau orang dewasa dalam tubuh yang kecil hal ini yang perlu kita pahami dalam memfasilitasi anak untuk mencapai tugas pertumbuhan dan perkembanganya (Cahyaningsih, 2011).
2.      Tahapan Tumbuh Kembang Pada Anak
Menurut Cahyaningsih, (2011) pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung secara teratur, berkaitan, dan berkesinambungan. Setiap anak akan melewati suatu pola tertentu yang merupakan tahapan pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut :
a.      Masa janin didalam kandungan.
b.      Masa setelah lahir terdiri dari beberapa tahapan usia yaitu :
1)     Masa neonatus (usia 0 – 28 hari)
2)     Masa bayi (usia 1 – 12 bulan).
3)     Masa toddler (Usia 1 – 3 tahun)
4)     Masa pra sekolah (usia 4 – 6 tahun)
5)     Masa sekolah (usia 7 – 13 tahun)
6)     Masa remaja (usia 14 – 18 tahun)
3.      Pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah (6 – 12 tahun)
Rentang kehidupan yang dimulai dari usia 6 sampai 12 tahun memiliki berbagai label yang masing masing menguraikan karakteristik penting dari priode tersebut. Priode usia pertengahan ini sering sekali disebut usia sekolah atau masa sekolah. Priode ini dimulai dengan masuknya anak ke lingkungan sekolah, yang memiliki dampak segnifikan dalam perkembangan dan hubungan anak dengan orang lain. Anak mulai bergabung dengan teman seusianya, mempelajari budaya masa kanak kanak, dan menggabungkan diri kedalam kelompok sebaya, yang merupakan hubungan dekat pertama diluar kelompok keluarga.
Secara fisiologis, masa kanak – kanak pertengahan dimulai dengan tanggalnya gigi susu pertama dan di akhiri pada masa pubertas dengan memperoleh gigi permanen terakhir (kecuali gigi graham terakhir). Selama usia 5 – 6 tahun sebelumnya anak mengalami kemajuan, dar bayi yang tidak berdaya menjadi individu yang kuat dan kompleks  dengan kemampuan berkomunikasi, membentuk konsep yang terbatas, dan mulai terlibat dalam prilaku sosial dan motorik yang kompleks. Anak mengalami pertumbuhan fisik yang sangat cepat. Sebaliknya priode masa kanak – kanak pertengahan, antara pertumbuhan yang cepat dimasa kanak – kanak awal dan ledakan pertumbuhan dimasa pubertas, adalah saat pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara bertahap dengan peningkatan yang lebh besar aspek fisik dan emosional

a.      Kelompok Umur
Kelompok umur menurut Oshawd kroh didalam Astoeti, (2006) sebagai beriku:
1)     Usia 6 – 8 tahun (SD kelas 1 – 2)
Di umur seperti ini  masih di pengaruhi fantasi menjadi kenyataan dicampur baur dengan fantasi.
2)     Usia 8 – 10 tahun (kelas 3 – 4)
Usia 8 – 10 tahun adalah masa berpikir naif dan nyata atau masa mengumpulkan ilmu pengetahuan
3)     Usia 10 – 12 tahun (kelas 5 – 6)
Usia 10 – 12 tahun adalah masa berfikir kritis dan nyata.
4.      Metode dan Alat Bantu Ajar Usia Sekolah
Pada tahapan ini perlu dipilih metode dan alat bantu ajar yang sesuai sehingga dapat menghasilkan perubahan prilaku. Sesuai dengan  teori perkembangan diatas maka kelompoknya adalah sebagai berikut
a.      Kelompok 6 – 8 tahun (kelas 1 – 2) menggunakan metode ceramah di modifikasi dengan bercerita/dongeng, bermain dan bernyanyi.
1)     Berceramah ringan dengan dibantu flip chart, slide, poster mengenai bentuk gigi, fungsi gigi susu dan gigi tetap, waktu yang tepat untuk menyikat gigi, serta dibantu alat peraga lain seperti model gigi dan sikat giginya untuk melatih menyikat gigi yang benar.
2)     Bercerita/mendongeng dapat menggunakan tokoh – tokoh fantasi anak anak yang di jagokan sebagai tokoh yang bergigi kuat dan sehat. Tujuan bercerita untuk memberikan informasi dan gagasan serta mendorong anak untuk melihat prilaku dan norma mereka.
3)     Bermain dan menggunakan alat – alat permainan atau pun gambar gambar mengenai makanan yang sehat dan tidak sehat untuk gigi.
4)     Benyanyi lagu lagu jenaka dengan mengganti lirik yang mudah diingat dengan tujuan untuk memberi gagasan kesehatan gigi pada anak
b.      Kelompok 8 – 10 tahun (kelas 3 – 4) menggunakan metode ceramah di modifikasi dengan peragaan
1)     Berceramah mengenai: bagian – bagian mulut dan gigi, fungsi dan jenis gigi, plak, proses gigi berlubang, cara menyikat gigi di bantu dengan alat peraga model gigi dan sikat gigi.
2)     Memeragakan merupakan cara yang menyenangkan untuk saling tukar pengetahuan dan keterampilan . peragaan membantu dan memberi kesempatan kepada anak untuk mempelajari dan melaksanakan keterampilan baru.
c.      Kelompok 10 – 12 tahun (kelas 5 – 6) menggunakan metode ceramah dimodifikasi dengan diskusi kelompok.
1)     Berceramah mengenai flour, plak penyebab gigi berlubang, proses penjalaran gigi berlubang gusi sehat, proses penjalaran gigi berlubang gusi sehat, proses terjadinya penyakit gusi, dibantu dengan poster dan alat peragaan lain.
Diskusi kelompok, yaitu memecahkan permasalahan bersama dari topik dan pertanyaan yang diberikan oleh penceramahan.

HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN KEBIASAAN MENGGOSOK GIGI PADA ANAK USIA SEKOLAH DI KELAS 3 SDN IBU DEWI VI CIANJUR

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Gigi dan mulut merupakan pintu gerbang masuknya virus dan bakteri sehingga dapat mengganggu organ tubuh lainnya. Masalah gigi berlubang masih banyak dikeluhkan baik oleh anak – anak maupun dewasa dan tidak bisa dibiarkan menjadi lebih parah karena akan mempengaruhi kulitas hidup. (Kemenkes, 2014).
Menurut World Health Organitation (WHO) di seluruh dunia, 60-90% dari anak anak sekolah dan hampir 100% orang dewasa memiliki masalah kesehatan gigi dan mulut, sekitar 30 % dari orang yang berusia 65-74 tahun tidak memiliki gigi alami. Dan kebanyakan orang yang mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut yang berekonomi kurang. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor diantaranya penggunaan tembakau, penggunaan alkohol, makan yang tidak sehat dan kebersihan mulut yang kurang.
Kesehatan gigi dan mulut di masyarakat Indonesia sering kali menjadi prioritas yang kesekian bagi sebagian orang. Di Indonesia prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut meningkat dilihat dari Persentase penduduk yang mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 dan 2013 dari 23,3% menjadi 25,9%, menurut data karakteristik kelompok umur  tahun 2007 dan 2013 umur 5 – 9 dari 21,6% menjadi 28,9% dan umur 10 – 14 dari 20,6% menjadi 25,2% hal ini mendapat perhatian serius dari tenaga kesehatan, baik dokter dan perawat gigi (Kemenkes, 2014).
Menurut Riskesdas di Jawa Barat kesahatan gigi dan mulut persentasenya dari tahun 2007 dan 2013 meningkat dari 25,3% menjadi 28,0% hal ini membuat Jawa barat menempati peringkat terbanyak ke 4 setelah Sulawesi Tenggara 28,6%, DKI Jakarta 29,1%, dan Aceh 30,5% di tahun 2013. Dan paling banyak masalah tentang kesehatan gigi adalah karies, untuk itu masalah karies di Indonesia memerlukan penanganan yang serius dari berbagai pihak.
Pelayanan asuhan keperawatan gigi dan mulut sebagai tugas pokok perawat gigi mempunyai tujuan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat dibidang kesehatan gigi dan mulut yang mencakup, mampu memelihara kesehatan gigi dan mulut, mampu melaksanakan upaya untuk mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut, mengetahui kelainan-kelainan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut, mampu mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasinya, mampu menggunakan sarana pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang tersedia secara wajar, dan maningkatkan angka mempertahankan gigi (kencana, 2013).
Basha dan Swamy, (2012) yang melakukan penelitian di india manyatakan bahwa 60-90% dari anak – anak usia sekolah mengalami karies gigi yang di sebabkan oleh kebersihan gigi dan mulut sangat kurang pada anak. Teori perkembangan Piaget (1969) menyatakan bahwa anak usia sekolah berada pada tahap perkembangan oprasional konkrit, dimana cara berfikir mereka sudah mulai logis dan masuk akal, sehingga apabila anak di beri pendidikan tentang sesuatu maka anak akan mengembangankan pengetahuan dan keterampilan melakukan sesuatu tersebut (Wong, Hockenberry, Wilson, & Winkelstein, (2008) Kebiasaan seseorang menyikat gigi sangatlah penting karena bila menyikat gigi dilakukan setelah sarapan dan sebelum tidur dapat meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.
Anak yang mengalami kerusakan gigi akan malas beraktivitas karena harus menahan rasa sakit pada gigi dan mulutnya. Rasa sakit itu juga dapat menyebabkan anak mengalami penurunan selera makan. Hal ini berdampak pada kekurangan asupan gizi pada anak. Selain itu, apabila gigi dibiarkan membusuk maka gigi berlubang harus di cabut. Pencabutan gigi pada anak sekolah mengakibatkan ruang kosong yang menyulitkan anak dalam mengunyah makanan. Hal tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan anak jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Kebiasaan menggosok gigi yang salah dapat meninggalkan sisa – sisa makanan bahkan penumpukan sisa makanan yang dapat membentuk asam mikrobial sehingga lama kelamaan akan menimbulkan destruksi komponen organik gigi dan mengakibatkan gigi berlubang (Schuurs, 1992).
Anak anak yang mengalami sakit pada gigi berlubang kecendrungan lebih banyak tidak masuk sekolah, mau tidak mau kondisi ini juga mempengaruhi prestasi belajar murid. Pepsodent berhasil melakukan penelitian yang dilakukan bersama departemen ilmu kesehatan gigi masyarakat dan Kedokteran gigi pencegahan FKG UI mengenai masalah kesehatan gigi dan mulut. Penelitian dilakukakan disekolah dasar bekasi. Penelitian terhadap 984 responden dari tiga SD di daerah Bekasi memperlihatkan fakta bahwa 94 persen anak usia 6-7 tahun mengalami seduikitnya satu gigi berlubang pada gigi susu. Masalah yang sama juga dialami anak usia 10-11 tahun sebanyak 82 persen pada gigi tetap mereka. Pepsodent meyakini bahwa gigi berlubang tak hanya membuat anak mengalami rasa sakit, namun juga akan mempengaruhi kehadiran anak di Sekolah. (drg. Mirah Afifah, 2015)
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukan secara berulang – ulang untuk hal yang sama. Definisi berprilaku benar dalam menyikat gigi adalah kebiasaan menyikat gigi setiap hari sesudah makan dan sebelum tidur (Kemenkes, 2013)
Dari data RISKESDAS 2013 dengan jumlah sampel untuk kelompok umur ≥10 tahun berjumlah 835.256 responden menunjukan sebagian besar (93,8%) menyikat gigi setiap hari, sebagian besar penduduk juga menyikat gigi pada saat mandi sore yaitu sebesar 79,7%, sebagian besar penduduk menyikat gigi setiap hari saat mandi pagi atau mandi sore. Kebiasaan yang keliru hampir merata tinggi diseluruh kelompok umur. Kebiasaan benar menyikat gigi penduduk indonesia hanya 2,3%.
Penelitian Budisuari, Oktarina dan Mikrajab, (2010) tentang hubungan pola makan dengan kebiasaan menyikat gigi, kebiasaan menyikat gigi juga dapat mempengaruhi berat ringannya karies, responden yang sikat gigi mempunyai kecendrungan terjadinya karies lebih ringan di banding yang tidak gosok gigi. Pencarian pengobatan gigi kepada tenaga kesehatan perlu ditingkatkan melalui peningkatan informasi, pengetahuan serta persepsi seseorang tentang kesehatan gigi dan mulut. Karena hal ini juga mempengaruhi tinggi rendahnya karies gigi. Dan juga gigi merupakan fokus infeksi terjadinya penyakit sistemik, antar lain penyakit ginjal dan jantung.
Penelitian Pranoto, Kristiono dan Indraswary, (2010) tingkat motivasi ibu tentang kesehatan gigi dan mulut di TK sinar Matahari semarang dari 56 responden, di dapatkan kriteria motivasi buruk 17,8% kriteria sedang 39,2% dan kriteria baik 43%. Tingkat early childhood caries pada TK sinar matahari semarang dari 56 responden, didapatkan jumlah minimal 33,9% jumlah mild 8,9% jumlah moderate 30,4% dan jumlah severe 26,8% adanya hubungan antara motivasi ibu tentang kesehatan gigi terhadap early child caries pada anak umur 3-5 tahun. Maka dari itu kebiasaan menyikat gigi tersebut sangat dipengaruhi oleh motivasi seseorang untuk mendorong seseorang agar mau menjaga kebersihan gigi dan mulut.
Motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor faktor yang menyebarkan, menyalurkan, dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu (Stoner & Freeman, 1995 dalam Nursalam, 2009). Motivasi tentang kesehatan gigi anak sangat penting karena anak akan meniru mengingat hal ini maka tanpa adanya motivasi yang kuat seseorang anak akan malas untuk menyikat gigi dan merawat giginya sejak dini (Pranoto, Cristiono dan Indraswary, 2010)
Hasil studi pendahuluan peneliti melakukan dengan dua cara yaitu dengan wawancara  dan observasi. Studi pendahuluan dilakukan di SDN IBU DEWI VI karena dari data Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) Puskesmas Cianjur Kota, sekolah tersebut yang paling banyak angka kejadian karies nya dan dari data tersebut, kelas yang terbanyak kariesnya berada di kelas 3, Maka dari itu peneliti melakukan wawancara terhadap siswa kelas 3 wawancara dilakukan oleh peneliti pada 10 orang siswa didapatkan 4 orang menyikat gigi satu kali sehari, dan 5 orang menyikat gigi saat mandi pagi dan mandi sore, 1 orang menyikat gigi setelah sarapan, waktu mandi dan malam hari. Hampir seluruhnya tidak pernah memeriksa rutin gigi mereka apabila tidak sakit, namun kebanyakan siswa tahu apa penyebab karies gigi, dampak dari tidak menyikat gigi dan paham bila ada penyuluhan kesehatan tentang gigi dilakukan oleh pihak puskesmas. Meskipun orang tua siswa menyediakan sikat gigi sendiri dan tersedia pasta gigi, siswa jarang memakainya. malasnya siswa untuk menyikat gigi karena siswa merasa menyikat gigi terlalu rumit untuk dilakukan dan agar siswa lebih cepat mandinya karena hal tersebut tidak terlalu penting bagi siswa.
Hasil wawancara dari pihak sekolah meyatakan bahwa pihak sekolah tidak ada program penyuluhan kesehatan gigi di sekolahnya namun pihak sekolah bekerja sama dengan Puskesmas Cianjur Kota untuk memeriksakan karies gigi para siswa dilakukan 3 bulan sekali untuk pengecekan, penyuluhan dan peragaan menyikat gigi yang benar. Hasil observasi tempat bahwa di SDN IBU DEWI VI banyak pedagang kaki 5 yang menjual makanan dan minuman manis sehingga para siswa banyak yang membeli makan berbahan manis.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “hubungan motivasi dengan kebiasaan menyikat gigi pada anak usia sekolah dengan karies di SDN IBU DEWI 6”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah hubungan motivasi dengan kebiasaan menggosok gigi pada anak usia sekolah di SDN Ibu Dewi 6 Cianjur ?”.
C.     Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan motivasi dengan kebiasaan menggosok gigi pada anak usia sekolah di SDN Ibu Dewi 6 Cianjur
2.      Tujuan Khusus
a.      Mengetahui gambaran motivasi anak
b.      Mengetahui gambaran kebiasaan menggosok gigi
c.      Mengetahui hubungan motivasi dengan kebiasaan menggosok gigi pada anak Usia sekolah di SDN Ibu dewi 6 Cianjur

D.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritik
Hasil penelitian ini dapat memberikan konstribusi bagi ilmu keperawatan dasar yang berkaitan dengan motivasi dan kebiasaan menyikat gigi serta memberikan konstribusi bagi pengembangan penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan kesehatan gigi
2.      Manfaat Praktis
a.      Bagi Tempat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada SDN Ibu Dewi 6 bahwa kebiasaan menggosok gigi didasari terlebih dahulu oleh motivasi sehingga akan mencegah terjadinya karies
b.      Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai sumber informasi bagi petugas kesehatan khususnya bagi perawat bahwa kebiasaan mengogosok gigi didasari terlebih dahulu oleh motivasi untuk mencegah karies.
c.      Bagi Siswa
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada anak dengan karies akan lebih paham tentang kesehatan gigi dan mulut dan dapat dijalankan setiap hari dengan baik dan benar.
d.      Bagi Peneliti Selanjutnya

Menjadi masukan bagi peneliti selanjutnya dan melakukan penelitian dengan faktor faktor lain kebiasaan menyikat gigi.

Sabtu, 09 September 2017

LAPARATOMI

LAPARATOMI

Pengertian
Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.

Indikasi
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
2. Peritonitis
3. Perdarahan saluran pencernaan.
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5. Masa pada abdomen

Komplikasi
1. Ventilasi paru tidak adekuat
2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan

Latihan-latihan fisik
Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi.

POST LAPARATOMI
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.

Tujuan perawatan post laparatomi;
1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
2. Mempercepat penyembuhan.
3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
4. Mempertahankan konsep diri pasien.
5. Mempersiapkan pasien pulang.

Komplikasi post laparatomi;
1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.

2. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.
Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.

3. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.
Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.
Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.

Proses penyembuhan luka
· Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.

· Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.

· Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.

· Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.

Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan
1.
Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
3. Pencegahan infeksi.

Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.

Mempertahankan konsep diri.
Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.

Pengkajian
Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy, adalah;
1. Respiratory
· Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.
2. Sirkulasi
· Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.
3. Persarafan : Tingkat kesadaran.
4. Balutan
· Apakah ada tube, drainage ?
· Apakah ada tanda-tanda infeksi?
· Bagaimana penyembuhan luka ?

5. Peralatan
· Monitor yang terpasang.
· Cairan infus atau transfusi.
6. Rasa nyaman
· Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi.
7. Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.

Kriteria Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;
1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
2. Luka insisi normal tanpa infeksi.
3. Tidak timbul komplikasi.
4. Pola eliminasi lancar.
5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
· Pengobatan lanjutan.
· Jenis obat yang diberikan.
· Diet.
· Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.
PENATALAKSANAAN PERAWATAN
Assesment
Pengkajian ini meliputi obyektif dan subyektif.
1. Data subyektif meliputi;
· Nyeri yang sangat pada daerah perut.

2. Data obyektif meliputi :
· Napas dangkal
· Tensi turun
· Nadi lebih cepat
· Abdomen tegang
· Defense muskuler positif
· Berkeringat
· Bunyi usus hilang
· Pekak hati hilang

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.

Hasil yang diharapkan
1. Pasien akan tetap merasa nyaman.
2. Pasien akan tetap mempertahankan kesterilan luka operasinya.
3. Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Tindakan keperawatan (intevensi keperawatan) pre operatif :
1. Pertahankan pasien untuk bedrest sampai diagnosa benar-benar sudah ditegakkan.
2. Tidak memberikan apapun melaui mulut dan beritahukan pasien untuk tidak makan dan minum.
3. Monitoring cairan intra vena bila diberikan.
4. Mencatat intake dan output.
5. Posisi pasien seenak mungkin.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan.
7. Ajarkan pasien hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi selesai.
8. Monitoring tanda-tanda vital.

Tindakan keperawatan post operasi:
1. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
2. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut.
4. Perawatan luka operasi secara steril.

Evaluasi
1. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :
· Suhu tubuh normal
· Nada normal
· Perut tidak kembung
· Peristaltik usus normal
· Flatus positif
· Bowel movement positif
2. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas.
3. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi.
4. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa.
5. Luka operasi baik.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI

Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984.

Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.

Jumat, 08 September 2017

REAKSI HOSPITALISASI

REAKSI HOSPITALISASI
Reaksi tersebut bersifat individual dan sangat tergantung pada usia perkembangan anak,pengalaman sebelumnya terhadap sakit,sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya,pada umumnya,reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan,kehilangan,
perlukaan tubuh,dan rasa nyeri.

# Reaksi anak pada hospitalisasi :
1. Masa bayi(0-1 th)
Dampak perpisahan
Pembentukan rasa P.D dan kasih sayang
Usia anak > 6 bln terjadi stanger anxiety /cemas
- Menangis keras
- Pergerakan tubuh yang banyak
- Ekspresi wajah yang tak menyenangkan
2.Masa todler (2-3 th)
Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan .Disini respon perilaku anak dengan tahapnya.
> Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain
> Putus asa menangis berkurang,anak tak aktif,kurang menunjukkan minat bermain, sedih, apatis
> Pengingkaran/ denial

- Mulai menerima perpisahan
- Membina hubungan secara dangkal
- Anak mulai menyukai lingkungannya

3. Masa prasekolah ( 3 sampai 6 tahun )
- Menolak makan
- Sering bertanya
- Menangis perlahan
- Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan

Perawatan di rumah sakit :
- Kehilangan kontrol
- Pembatasan aktivitas

Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman.
Sehingga ada perasaan malu, takut sehingga
menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak,tidak mau
bekerja sama dengan perawat.
4.Masa sekolah 6 sampai 12 tahun

Perawatan di rumah sakit memaksakan
meninggalkan lingkungan yang dicintai , klg, klp sosial sehingga menimbulkan
kecemasan

Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dlm klg, kehilangan klp sosial,perasaan takut mati,kelemahan fisik
Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal
5.Masa remaja (12 sampai 18 tahun )
Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh
kelompok sebayanya
Saat MRS cemas karena perpisahan tersebut
Pembatasan aktifitas kehilangan kontrol
Reaksi yang muncul :
> Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan
> Tidak kooperatif dengan petugas
Perasaan sakit akibat perlukaan menimbulkan
respon :
- bertanya-tanya
- menarik diri
- menolak kehadiran orang lain

# Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi
& Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi:
Takut dan cemas,perasaan sedih dan frustasi:

Kehilangan anak yang dicintainya:
- Prosedur yang menyakitkan
- Informasi buruk tentang diagnosa medis
- Perawatan yang tidak direncanakan
- Pengalaman perawatan sebelumnya
&Perasaan sedih:
Kondisi terminal perilaku isolasi /tidak mau didekati orang lain

&Perasaan frustasi:Kondisi yang tidak mengalami perubahan Perilaku tidak kooperatif,putus asa,menolak tindakan,menginginkan P.P
&Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di RS: Marah,cemburu,benci,rasa bersalah

INTEVENSI PERAWATAN DALAM MENGATASI DAMPAK HOSPITALISASI
Fokus intervensi keperawatan adalah
- meminimalkan stressor
- memaksimalkan manfaat hospitalisasi memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga
- mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit

# Upaya meminimalkan stresor atau penyebab stress
Dapat dilakukan dengan cara :
- Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan
- Mencegah perasaan kehilangan kontrol
- Mengurangi / meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri

#Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan
1. Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak
2. Modifikasi ruang perawatan
3. Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah
- Surat menyurat, bertemu teman sekolah

# Mencegah perasaan kehilangan kontrol:
- Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif.
- Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan
- Buat jadwal untuk prosedur terapi,latihan,bermain
- Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan

# Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri
> Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri
> Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak
> Menghadirkan orang tua bila memungkinkan
> Tunjukkan sikap empati
> Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita, gambar. Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka

# Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak
> Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar .
> Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak.
> Meningkatkan kemampuan kontrol diri.
> Memberi kesempatan untuk sosialisasi.
> Memberi support kepada anggota keluarga.

# Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit
> Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak.
> Mengorientasikan situasi rumah sakit.
Pada hari pertama lakukan tindakan :
- Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya
- Kenalkan pada pasien yang lain.
- Berikan identitas pada anak.
- Jelaskan aturan rumah sakit.
- laksanakan pengkajian .
- Lakukan pemeriksaan fisik.

# Pengertian bermain
> Cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari
> Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri untuk memperoleh kesenangan.

# Bermain merupakan kegiatan
- Menyenangkan / dinikmati
- Fisik.
- Intelektual.
- Emosi.
- Sosial.
- Untuk belajar.
- Perkembangan mental.
- Bermain dan bekerja

# Tujuan bemain di rumah sakit
> Untuk dapat melanjutkan tumbuh kembang yang normal selama di rawat
> Untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dan fantasinya melalui permainan

# Prinsip bermain di rumah sakit
- Tidak membutuhkan banyak energi
- Waktunya singkat.
- Mudah dilakukan
- Aman
- Kelompok umur.
- Tidak bertentangan dengan terapi.
- Melibatkan keluarga.

# Fungsi bermain
- Aktifitas sensori motorik
- Perkembangan kognitif
- Sosialisasi
- Kreatifitas
- Perkembangan moral therapeutik
- Komunikasi.

# Klasifikasi bermain
I. Isi permainan
1. Sosial affective play
- Belajar memberi respon terhadap lingkungan

* Orang tua berbicara/memanjakan —- anak senang,tersenyum,mengeluarkan suara,dll
2.Sense of pleasure play
————Anak memperoleh kesenangan dari suatu obyek disekitarnya
—-Bermain air/pasir
3. Skill play
——–>Anak memperoleh keterampilan tertentu
- Mengendarai sepeda,memindahkan balon,dll
4. Dramatic play/tole play
Anak berfantasi menjalankan peran tertentu
–>Berperan sebagai: Perawat,dokter,ayah,ibu,dll

# Karakteristik Sosial
1.Solitary play
Dilakukan oleh balita ( todler)
Bermain dalam kelompok 1 thn merupakan asyik dengan permainannya sendiri yang berlainan
- Dilakukan oleh balita atau pre school
- Bermain dalam kelompok, permainan sejenis,tak ada interaksi,tak tergantung
- Bermain dalam kelompok,aktivitas sama,tetapi belum terorganisasi dengan
baik
- Belum ada pembagian tugas, bermain sesuai dengan keinginannya
- Bermain dalam kelompok,aktivitas sama,tetapi belum terorganisasi dengan baik
- Belum ada pembagian tugas, bermain sesuai dengan keinginannya
- School age/ adolescant
——>Permainan terorganisasi terencana,ada aturan-aturan tertentu

# Faktor-faktor yang mempengaruhi bermain
1. Tahap perkembangan anak
2. Status kesehatan
3. Jenis kelamin
4. Alat permain



Teori Perkembangan Menurut Denver II

Pengertian
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 1997).
Perkembangan Menurut Denver II
Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit.
a. Aspek Perkembangan yang dinilai
Terdiri dari 125 tugas perkembangan.
Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas
Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai:
1) Personal Social (perilaku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
3) Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan
4) Gross motor (gerakan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
b. Alat yang digunakan
Ø Alat peraga: benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi, kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna merah-kuning-hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa).
Ø Lembar formulir DDST II
Ø Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya.
c. Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
1) Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia:
3-6 bulan
9-12 bulan
18-24 3-24 bln
3 tahun
4 tahun
5 tahun
2) Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.
d. Penilaian
Jika Lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO).
CARA PEMERIKSAAN DDST II
§ Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.
§ Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
§ Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST.
§ Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F.
§ Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan dan tidak dapat dites.
1) Abnormal
a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia .
2) Meragukan
a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
3) Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.
4) Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.
Pada anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun:
Contoh perhitungan anak dengan prematur:
An. Lula lahir prematur pada kehamilan 32 minggu, lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Hitung usia kronologis An. Lula!
Diketahui:
Tanggal lahir An. Lula : 5-8-2006
Tanggal periksa : 1-4-2008
Prematur : 32 minggu
Ditanyakan:
Berapa usia kronologis An. Lula?
Jawab:
2008 – 4 – 1 An. Lula prematur 32 minggu
2006 – 8 – 5 Aterm = 37 minggu
_________ - Maka 37 – 32 = 5 minggu
1 – 7 -26
Ø Jadi usia An. Lula jika aterm (tidak prematur) adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau
1 tahun 8 bulan atau 20 bulan
Usia tersebut dikurangi usia keprematurannya yaitu 5 minggu X 7 hari = 35 hari, sehingga usia kronologis An. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah:
Ø 1 tahun 7 bulan 26 hari – 35 hari = 1 tahun 6 bulan 21 hari
Atau
1 tahun 7 bulan atau 19 bulan
Interpretasi dari nilai Denver II
Ø Advanced
Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut)
Ø OK
Melewati, gagal, atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75
Ø Caution
Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90
Ø Delay
Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis; penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan, karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu
Interpretasi tes
Ø Normal
Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan
Ø Suspect
Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan
Ø Untestable
Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 90%
Rekomendasi untuk rujukan tes Suspect dan Untestable:

Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan faktor temporer

Featured Post

LEAFLET KEHAMILAN TIDAK DI INGINKAN (KTD)

yang ingin Edit bisa di download Link di bawah DOWNLOAD